INDONESIAN JESUS SAVES. Yesus Menyimpan


Pertanyaan: Apa itu doa untuk keselamatan?

Jawaban: 
Banyak orang menanyakan “Apakah ada doa yang saya bisa doakan untuk menghasilkan keselamatan bagi saya?” Ketika mempertimbangkan pertanyaan ini penting untuk diingat bahwa keselamatan bukan diperoleh dengan mengutip suatu doa atau mengucapkan kalimat-kalimat tertentu. Alkitab sama sekali tidak mencantumkan ada orang yang diselamatkan melalui berdoa. Mengucapkan doa bukanlah jalan keselamatan yang sesuai dengan Alkitab.

Cara Alkitab untuk keselamatan adalah dengan percaya pada Yesus. Yohanes 3:16 memberitahukan kita, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Keselamatan adalah oleh iman (Efesus 2:8), dengan menerima Yesus sebagai Juruselamat (Yohanes 1:12), dengan percaya hanya kepada Yesus (Yohanes 14:6; Kisah Rasul 4:12) – bukan dengan mengucapkan doa.

Berita Alkitab mengenai keselamatan adalah sederhana dan jelas, dan pada saat yang sama juga mengagumkan. Kita semua telah berbuat dosa melawan Allah (Roma 3:23). Tidak ada seorangpun yang hidup seumur hidupnya tanpa berbuat dosa (Pengkhotbah 7:20). Karena dosa kita, kita pantas untuk mendapatkan hukuman dari Allah (Roma 6:23), dan hukuman itu adalah kematian secara fisik yang diikuti dengan kematian rohani. Karena dosa kita dan hukuman yang menyertainya, tidak ada yang dapat kita lakukan pada diri kita sendiri untuk mendamaikan diri kita dengan Allah. Sebagai hasil dari kasihNya kepada kita, Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus. Yesus hidup secara sempurna dan selalu mengajarkan kebenaran. Namun umat manusia menolak Yesus dan menyalibkan Dia sampai mati. Melalui perbuatan keji itu Yesus mati menggantikan kita. Yesus menanggung beban dan penghakiman dosa pada diriNya sendiri, dan mati untuk kita (2 Korintus 5:21). Yesus kemudian dibangkitkan (1 Korintus 15), membuktikan bahwa harga dosa telah dibayarNya sampai lunas, dan bahwa Dia telah mengalahkan dosa dan kematian. Sebagai hasil dari pengorbanan Yesus, Allah menawarkan keselamatan kepada kita sebagai anugrah. Allah memanggil kita semua untuk mengubah pikiran kita mengenai Yesus (Kisah Rasul 17:30), dan menerima Dia sebagai pembayaran penuh untuk dosa-dosa kita (1 Yohanes 2:2). Keselamatan diperoleh melalui menerima anugrah yang Allah tawarkan kepada kita, bukan melalui doa.

Namun ini bukan berarti bahwa doa tidak ada kaitannya dalam menerima keselamatan. Jikalau Anda memahami Injil, percaya bahwa Injil itu adalah benar adanya, dan telah menerima Yesus untuk keselamatan Anda – adalah bagus dan pantas untuk mengungkapkan iman ini kepada Allah dalam doa. Berbicara dengan Allah melalui doa dapat merupakan cara untuk melangkah maju dari menerima fakta mengenai Yesus sebagai kebenaran kepada betul-betul percaya kepadaNya sebagai Juruselamat. Doa dapat dihubungkan dengan tindakan menempatkan iman Anda hanya kepada Yesus untuk mendapatkan keselamatan. 

Namun sekali lagi adalah sama pentingnya bahwa Anda tidak mendasarkan keselamatan Anda pada sekedar mengucapkan doa. Mengucapkan doa tidak akan menyelamatkan Anda! Jikalau Anda ingin menerima keselamatan yang tersedia melalui Yesus Kristus, berimanlah kepadaNya. Percaya sepenuhnya pada kematianNya sebagai korban yang cukup untuk dosa-dosa Anda. Bersandarlah padanya secara penuh sebagai Juruselamat Anda. Inilah cara Alkitab untuk keselamatan. Jikalau Anda telah menerima Yesus sebagai Juruselamat Anda, silahkan mengucapkan doa kepada Allah. Ungkapkan pada Allah betapa Anda bersyukur untuk Yesus. Nyatakan syukur kepada Allah untuk kasih dan pengorbananNya. Katakan terima kasih kepada Yesus untuk kematianNya dan untuk menyediakan keselamatan bagi Anda. Inilah hubungan antara keselamatan dan doa yang Alkitabiah.



Pertanyaan: Bagaimana saya bertobat kepada keKristenan?

Jawaban: 
Seseorang di sebuah kota Yunani yang bernama Filipi menanyakan pertanyaan yang sama kepada Paulus dan Silas. Kita tahu paling sedikit tiga hal mengenai orang ini: dia adalah seorang sipir, dia adalah penyembah berhala, dan dia putus asa. Ada kemungkinan dia sudah hampir bunuh diri ketika Paulus mencegah dia. Kemudian orang ini bertanya, “Apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?" (Kisah 16:30)

Fakta bahwa orang ini menanyakan pertanyaan tsb. menunjukkan bahwa dia menyadari kebuAllahnya akan keselamatan - dia melihat kematian sebagai bagiannya semata-mata, dan dia tahu bahwa dia membutuhkan pertolongan. Fakta bahwa dia menanyakan kepada Paulus dan Silas menunjukkan bahwa dia percaya bahwa mereka memiliki jawabannya.

Jawabannya datang dengan cepat dan sederhana: “Percayalah kepada Allah Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu." (Kisah 16:31) Cerita selanjutnya memperlihatkan bagaimana orang itu percaya dan bertobat. Sejak hari itu hidupnya mulai berubah.

Perhatikan bahwa pertobatan orang ini adalah berdasarkan iman (“percaya”). Dia harus percaya kepada Yesus semata-mata. Orang ini percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah (“Allah”) dan Mesias yang menggenapi Kitab Suci (“Kristus”). Imannya juga meliputi kepercayaan bahwa Yesus mati bagi dosa dan bangkit kembali karena itulah berita yang dikhotbahkan oleh Paulus dan Silas (lihat Roma 10:9-10 dan 1 Korintus 15:1-4).

Secara harafiah “bertobat” artinya “berbalik.” Ketika kita berbalik kepada sesuatu pada saat yang sama kita juga berbalik dari sesuatu. Ketika kita berbalik kepada Yesus, kita juga berbalik dari dosa. Alkitab menyebut berbalik dari dosa sebagai “penyesalan” dan berbalik kepada Kristus sebagai “iman.” Karena itu penyesalan dan iman adalah saling melengkapi. Baik penyesalan maupun iman diindikasikan dalam 1 Tesalonika 1:9 - “bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah” (1 Tesalonika 1:9). Sebagai hasil dari pertobatan yang sejati kepada keKristenan, orang Kristen akan meninggalkan jalan hidupnya yang dulu dan segala sesuatu yang berkaitan dengan kepercayaan yang salah.

Secara sederhana, untuk bertobat kepada keKristenan Anda harus percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah yang telah mati bagi dosa Anda dan bangkit kembali. Anda harus sependapat dengan Allah bahwa Anda adalah orang berdosa yang membutuhkan keselamatan, dan Anda harus percaya pada Yesus saja untuk menyelamatkan Anda. Ketika Anda berbalik dari dosa kepada Kristus, Allah berjanji menyelamatkan Anda dan memberi Anda Roh Kudus yang menjadikan Anda sebagai ciptaan baru. 

KeKristenan dalam bentuknya yang sejati bukanlah agama. Menurut Alkitab, keKristenan adalah hubungan dengan Yesus Kristus. KeKristenan adalah Allah menawarkan keselamatan kepada setiap orang yang percaya dan menerima pengorbanan Yesus Kristus. Seseorang yang bertobat kepada keKristenan bukan meninggalkan satu agama dan memeluk agama lainnya. Bertobat kepada keKristenan adalah menerima hadiah yang ditawarkan Allah dan memulai relasi pribadi dengan Yesus Kristus yang membuahkan pengampunan dosa dan kekekalan di Surga setelah meninggalkan dunia ini. 

Apakah Anda berniat bertobat pada keKristenan karena apa yang Anda baca dalam artikel ini? Jika Anda menjawab ya, berikut ini adalah sebuah doa sederhana yang dapat Anda panjatkan pada Allah. Mengucapkan doa ini atau doa lainnya tidak akan menyelamatkan Anda. Hanyalah percaya kepada Yesus yang dapat menyelamatkan Anda dari dosa. Doa ini hanya sebuah cara untuk mengungkapkan iman Anda kepada Allah dan berterima kasih padaNya untuk keselamatan yang disediakan bagi Anda. “Allah, saya tahu bahwa saya telah berdosa terhadap Engkau dan layak mendapatkan hukuman. Namun Yesus Kristus telah menanggung hukuman yang sepantasnya saya tanggung sehingga melalui iman kepadaNya saya dapat diampuni. Saya percaya kepadaMu untuk keselamatanku. Terima kasih untuk anugrah dan pengampunanMu yang ajaib – anugrah hidup kekal! Amin!”




May 2, 2015

Pertanyaan: Apa itu doa orang berdosa?

Jawaban: 
Doa orang berdosa adalah doa yang didoakan orang kepada Tuhan saat mereka menyadari bahwa mereka adalah orang berdosa dan membutuhkan Juruselamat. Sekedar mengucapkan doa orang berdosa tidak akan menghasilkan apa-apa. Doa orang berdosa hanya bermanfaat jikalau doa itu dengan sungguh-sungguh mengungkapkan apa yang diketahui, dimengerti dan dipercaya oleh orang tsb mengenai dosanya dan kebutuhannya untuk diselamatkan.

Aspek pertama dari doa orang berdosa adalah pengertian bahwa kita semua adalah orang-orang berdosa. Roma 3:10 mengatakan, “Seperti ada tertulis: Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.” Alkitab sangat jelas bahwa setiap kita sudah berdosa. Kita adalah orang-orang berdosa yang membutuhkan belas kasihan dan pengampunan dari Tuhan (Titus 3:5-7). Karena dosa kita, kita pantas menerima hukuman kekal (Matius 25:46). Doa orang berdosa adalah permohonan untuk mendapatkan anugrah dan bukannya penghakiman. Ini adalah doa untuk mohon belas kasihan dan bukannya murka. 

Aspek kedua dari doa orang berdosa adalah mengetahui apa yang Tuhan sudah lakukan untuk memperbaiki kondisi kita yang berdosa dan terhilang. Allah datang menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus (Yohanes 1:1, 14). Yesus mengajar kita kebenaran mengenai Allah dan hidup dalam kebenaran yang sempurna dan tidak berdosa sama sekali (Yohanes 8:46, 2 Korintus 5:21). Yesus kemudian mati di salib menggantikan kita, menanggung hukuman yang sepantasnya kita tanggung (Roma 5:8). Yesus bangkit dari kematian membuktikan kemenanganNya atas dosa, kematian dan neraka (Kolose 2:15, 1 Korintus 15). Karena semua ini, dosa-dosa kita diampuni dan kita dijanjikan rumah kekal di Surga, kita kita bersedia menaruh iman kita kepada Yesus Kristus. Satu-atunya yang kita perlu lakukan adalah percaya bahwa Dia mati menggantikan kita dan bangkit kembali dari antara orang mati (Roma 10:9-10). Kita diselamatkan semata-mata karena anugerah belaka, melalui iman di dalam Yesus Kristus. Efesus 2:8 mengatakan, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah.”

Mengucapkan doa orang berdosa adalah sebuah cara untuk memberitahu Tuhan bahwa Anda bersandar pada Yesus Kristus sebagai Juruselamatmu. Di dalamnya tidak ada kata-kata “ajaib” yang dapat menghasilkan keselamatan. Hanya iman kepada kematian dan kebangkitan Yesus yang dapat menyelamatkan kita. Jika Anda mengerti bahwa Anda adalah orang berdosa dan membutuhkan keselamatan melalui Yesus Kristus, berikut ini adalah sebuah doa orng berdosa yang dapat Anda doakan kepada Tuhan, “Tuhan, saya tahu saya adalah orang berdosa. Saya tahu bahwa saya pantas menerima akibat dari dosa-dosa saya. Namun demikian, saya percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat saya. Saya percaya bahwa kematian dan kebangkitanNya menyediakan pengampunan bagi saya. Saya percaya kepada Tuhan Yesus sebagai satu-satunya Tuhan dan Juruselamatku. Tuhan, terima kasih untuk menyelamatkan dan mengampuni saya! Amin!”


Pertanyaan: Apa itu Jalan Roma Menuju Keselamatan?

Jawaban: 
Jalan Roma menuju keselamatan adalah cara untuk membagikan Injil Keselamatan dengan mempergunakan ayat-ayat Alkitab dari Surat Roma. Ini adalah cara yang sederhana namun ampuh untuk menjelaskan mengapa kita membutuhkan keselamatan, bagaimana Tuhan menyediakan keselamatan, bagaimana kita menerima keselamatan dan apa hasil dari keselamatan.

Ayat Alkitab yang pertama dari Jalan Roman menuju keselamatan adalah Roma 3:23, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Kita semua sudah berdosa. Kita sudah melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan Tuhan. Tidak seorangpun yang tidak bersalah. Roma 3:10-18 memberikan gambaran detil seperti apa dosa itu dalam kehidupan kita. Ayat Alkitab yang kedua dari Jalan Roma menuju keselamatan, Roma 6:23, mengajar kita mengenai konsekwensi dari dosa - “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Hukuman yang pantas bagi dosa kita adalah kematian. Bukan hanya kematian secara fisik, namun kematian kekal!

Ayat ketiga dari Jalan Roma menuju keselamatan adalah kelanjutan dari Roma 6:23, “tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 5:8 menyatakan, “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Yesus kristus telah mati bagi kita! Kematian Yesus membayar harga dosa-dosa kita. Kebangkitan Yesus membuktikan bahwa Tuhan telah menerima kematian Yesus sebagai pembayaran atas dosa-dosa kita.

Tempat perhentian berikut dalam Jalan Roma menuju keselamatan adalah Roma 10:9, “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.”Karena kematian Yesus adalah bagi kita, satu-satunya yang perlu kita lakukan adalah percaya kepadaNya, menerima kematianNya sebagai pembayaran bagi dosa-dosa kita, dan kita akan diselamatkan! Roma 10:13 mengatakan, “Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.” Yesus telah mati untuk membayar dosa-dosa kita dan menyelamatkan kita dari kematian kekal. Keselamatan, pengampunan dosa, tersedia bagi setiap orang yang percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya.

Bagian terakhir dari Jalan Roma menuju keselamatan adalah hasil dari keselamatan. Roma 5:1 mengandung berita yang indah ini, “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.” Melalui Yesus Kristus kita dapat memperoleh hubungan yang damai dengan Tuhan. Roma 8:1 mengajar kita, “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” Karena Yesus telah mati bagi kita, kita tidak akan menerima hukuman bagi dosa-dosa kita. Dan akhirnya, kita memiliki janji dalam Roma 8:38-39, “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”

Maukah Anda mengikuti Jalan Roma menuju keselamatan? Jika demikian, berikut ini adalah sebuah contoh doa. Doa ini adalah sebuah cara untuk mengungkapkan kepada Tuhan bahwa Anda bersandar kepada Yesus Kristus untuk keselamatan Anda. Kata-kata doa ini tidak akan menyelamatkan Anda. Hanya iman kepada Yesus Kristus yang dapat menyelamatkan. “Tuhan, saya tahu bahwa saya telah berdosa kepadaMu dan pantas untuk dihukum. Namun Yesus Kristus telah menanggung hukuman yang seharusnya saya tanggung sehingga dengan beriman kepadaNya saya dapat diampuni. Dengan pertolonganMu, saya berbalik dari dosa-dosaku dan percaya kepadaMu untuk diselamatkan. Terima kasih untuk anugerah dan pengampunanMu yang indah, yaitu karunia hidup kekal! Amin!”



April 26, 2015

Pertanyaan: Apa itu rencana keselamatan?

Jawaban: 
Apakah Anda lapar? Bukan lapar secara fisik, tetapi apakah Anda lapar untuk hidup yang lebih baik? Apakah di dalam diri Anda ada sesuatu yang tidak pernah dipuaskan? Jika demikian, Yesus adalah jalannya. Yesus berkata, “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi” (Yohanes 6:35). 

Apakah Anda kebingungan? Apakah Anda sepertinya tidak pernah menemukan dan mengerti jalan kehidupan? Apakah hidup Anda seperti dalam kegelapan dan Anda tidak bisa mencari cara untuk meneranginya? Jika demikian, Yesuslah jalannya. Yesus mengatakan,"Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup" (Yohanes 8:12).

Apakah Anda merasa terkunci? Anda mencoba berbagai pintu, dan yang Anda temukan adalah kekosongan dan hal-hal yang tidak ada artinya? Apakah Anda mencari pintu masuk kepada hidup yang berkelimpahan? Kalau demikian, Yesuslah jalannya! Yesus berkata, “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput” (Yohanes 10:9).

Apakah orang lain mengecewakan Anda? Apakah relasi Anda dengan orang lain dangkal dan kosong? Apakah Anda merasa bahwa orang lain selalu berusaha memanfaatkan Anda? Jika demikian, Yesuslah jalannya. Yesus berkata, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; … Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku” (Yohanes 10:11,14).

Apakah Anda memikirkan apa yang terjadi setelah Anda meninggal dunia? Apakah Anda capek dengan hal-hal yang pada akhirnya rusak dan hancur? Apakah Anda sering merenungkan apakah hidup ini ada artinya? Apakah Anda ingin hidup setelah mati? Jika demikian, Yesuslah jalannya! Yesus menyatakan, "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya" (Yohanes 11:25-26).

Apakah jalan itu? Apakah kebenaran itu? Apakah hidup? Yesus menjawab,"Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6).

Kelaparan yang Anda rasakan adalah kelaparan rohani, dan hanya dapat dikenyangkan oleh Yesus. Yesus adalah Satu-satunya yang dapat menerangi kegelapan Anda. Yesus adalah Pintu kepada hidup yang berkelimpahan. Yesus adalah Sahabat dan Gembala yang Anda cari-cari. Yesus adalah Hidup – sekarang dan akan datang. Yesus adalah Jalan keselamatan!

Penyebab dari kelaparan Anda, penyebab dari kegelapan yang melingkupi hidup Anda, penyebab dari kegagalan Anda mendapatkan makna hidup, semua itu adalah karena Anda terpisah dari Tuhan. Alkitab memberitahukan bahwa kita semua telah berdosa dan karena itu kita terpisah dari Tuhan (Pengkhotbah 7:20; Roma 3:23). Kekosongan yang Anda rasakan dalam hati adalah karena Tuhan tidak ada dalam hidup Anda. Kita diciptakan untuk berhubungan dengan Allah. Karena dosa kita, kita tidak dapat memiliki hubungan itu. Yang lebih parah lagi, dosa akan menyebabkan kita terpisah dari Tuhan untuk kekekalan, dalam hidup ini dan sesudahnya (Roma 6:23; Yohanes 3:36).

Bagaimana masalah ini dapat diselesaikan? Yesuslah jalannya. Yesus memikul dosa-dosa kita (2 Korintus 5:21). Yesus mati menggantikan kita (Roma 5:8) menanggung hukuman yang sepantasnya kita tanggung. Tiga hari kemudian Yesus bangkit dari antara orang mati, membuktikan kemenanganNya atas dosa dan kematian (Roma 6:4-5). Mengapa Dia melakukannya? Yesus sendiri menjawab pertanyaan ini, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yohanes 15:13). Yesus mati supaya kita bisa hidup. Jika kita beriman kepada Yesus, percaya kepada kematianNya sebagai pembayaran atas dosa-dosa kita, semua dosa kita diampuni dan dibersihkan. Kelaparan rohani kita akan dikenyangkan. Terang akan bernyala. Kita akan mendapatkan jalan kepada hidup yang berkelimpahan. Kita akan mengenal Sahabat sejati dan Gembala kita yang baik. Kita akan tahu bahwa kita akan memiliki hidup setelah meninggalkan dunia ini, hidup dalam kebangkitan bersama dengan Yesus di surga untuk selama-lamanya.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).


Pertanyaan: Apa agama yang tepat bagi saya?

Jawaban: 
Restoran cepat-saji memancing kita dengan mengijinkan kita memesan makanan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Beberapa rumah kopi membanggakan ratusan macam rasa dan jenis kopi yang mereka jual. Bahkan dalam membeli rumah dan mobil, kita bisa memilih opsi dan fitur yang sesuai dengan keinginan kita. Kita tidak lagi terbatas dengan coklat, vanila atau strawberry. Pilihan, itu adalah raja. Anda dapat memperoleh apapun sesuai dengan kesukaan dan kebutuhan pribadi Anda.

Jadi bagaimana dengan agama yang persis Anda inginkan? Bagaimana dengan agama yang tidak membuat rasa bersalah, tidak ada penuntutan dan tidak dipenuhi dengan harus begini dan tidak boleh begitu? Agama seperti itu ada, tetapi dapatkah kita memilih agama seperti memilih rasa es krim?

Dalam dunia ini ada banyak suara yang mencoba menarik perhatian kita; jadi mengapa kita harus mempertimbangkan Yesus lebih dari Muhammad atau Konghucu atau Budha atau Charles Taze Russell atau Joseph Smith? Bukankah semua jalan menuntun ke surga? Bukankah pada dasarnya semua agama sama saja? Yang benar ialah: tidak semua agama menuntun ke surga, sama seperti tidak semua jalan membawa kita ke Jakarta.

Hanya Yesus sendiri yang berbicara dengan otoritas Tuhan karena hanya Yesus yang telah mengalahkan kematian. Muhammad, Konghucu dan lain-lainnya tetap tinggal dalam kuburan sampai hari ini, tetapi Yesus, dengan kuasaNya sendiri, keluar dari kubur pada hari yang ketiga setelah mati dengan keji di salib. Setiap orang yang berkuasa atas kematian patut mendapat perhatian kita. Setiap orang yang berkuasa atas kematian patut untuk didengar.

Bukti-bukti yang mendukung kebangkitan Tuhan Yesus sangat banyak. Pertama-tama, ada kurang lebih 500 saksi mata yang menyaksikan Yesus yang bangkit! Jumlah tsb adalah jumlah yang banyak. Lima ratus suara tidak boleh diabaikan begitu saja. Ditambah lagi dengan kubur kosong. Para musuh Yesus dapat dengan mudah menghentikan pembicaraan mengenai kebangkitan Yesus dengan memperlihatkan mayat Yesus yang mulai membusuk, tapi mereka tidak dapat memperlihatkan mayat Yesus. Kubur Yesus kosong! Dapatkah para murid mencuri mayat Yesus? Tidak mudah. Untuk mencegah hal itu kubur Yesus dijaga oleh para tentara yang bersenjata. Mengingat bahwa para pengikut Yesus lari ketakutan saat Yesus ditangkap dan disalibkan, kecil sekali kemungkinan untuk sekelompok nelayan yang ketakutan ini untuk berani datang menghadapi para tentara yang profesional dan terlatih. Fakta berbicara, kebangkitan Tuhan Yesus tidak dapat diabaikan begitu saja!

Sekali lagi, setiap orang yang berkuasa atas kematian pantas untuk didengar. Yesus membuktikan kuasaNya atas kematian, kita perlu mendengar apa yang Dia katakan. Yesus mengklaim sebagai satu-satunya jalan keselamatan (Yohanes 14:6). Yesus bukan salah satu jalan; Dia adalah satu-satunya jalan.

Dan Yesus yang sama ini berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Matius 11:28). Hidup dalam dunia ini adalah hidup yang berat. Banyak di antara kita yang bercucuran darah, dan babak belur dalam dunia ini. Betul? Jadi apa yang Anda inginkan? Pemulihan atau sekedar sebuah agama? Juruselamat yang hidup atau salah satu dari sekian banyak “nabi” yang mati? Hubungan yang bermakna atau upacara-upacara yang kosong? Yesus bukan salah satu pilihan, Dia adalah satu-satunya pilihan! 

Yesus adalah “agama” yang tepat kalau Anda mencari pengampunan (Kisah Rasul 10:43). Yesus adalah “agama” yang tepat kalau Anda mencari hubungan yang berarti dengan Tuhan (Yohanes 10:10). Yesus adalah “agama” yang tepat kalau Anda mencari rumah kekal di Surga (Yohanes 3:16). Tempatkan iman Anda kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamatmu, Anda tidak akan menyesal! Percayalah kepadanya untuk pengampunan dosamu, Anda tidak akan dikecewakan.

Jikalau Anda ingin memiliki hubungan yang benar dengan Tuhan, berikut ini adalah sebuah contoh doa. Ingat, sekedar mengucapkan doa ini atau doa-doa lainnya tidak akan menyelamatkan Anda. Hanya percaya kepada Yesus yang akan menyelamatkan Anda dari dosa. Doa ini adalah sebuah cara untuk mengungkapkan kepada Tuhan bahwa Anda beriman kepadaNya dan untuk berterima kasih kepadaNya untuk keselamatan yang Dia sediakan bagi Anda. “Tuhan, saya tahu bahwa saya telah berdosa kepadaMu dan pantas untuk dihukum. Namun Yesus Kristus telah menanggung hukuman yang seharusnya saya tanggung sehingga dengan beriman kepadaNya saya dapat diampuni. Saya berbalik dari dosa-dosaku dan percaya kepadaMu untuk diselamatkan. Terima kasih untuk anugerah dan pengampunanMu yang indah, yaitu karunia hidup kekal! Amin!”


April 25, 2015

Pertanyaan: Bagaimana saya dapat memperoleh kepastian bahwa saya akan masuk Surga setelah saya meninggal dunia?

Jawaban: 
Apakah Anda memiliki kepastian bahwa Anda memiliki hidup kekal dan akan masuk surga saat Anda meninggalkan dunia ini? Allah ingin Anda memiliki kepastian itu. Alkitab mengatakan, “Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal” (1 Yohanes 5:13). Misalnya Anda berdiri di hadapan Tuhan saat ini dan Dia bertanya, “Mengapa Saya harus mengijinkan engkau masuk Surga?” Apa yang akan Anda katakan? Anda mungkin tidak tahu bagaimana menjawabnya. Apa yang patut Anda ketahui ialah bahwa Tuhan mengasihi kita dan telah menyediakan cara untuk kita mendapat kepastian di mana kita akan melewati kekekalan. Alkitab mengatakan demikian, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).

Pertama-tama kita perlu memahami masalah yang menghalangi kita masuk surga. Persoalan itu adalah pribadidosa kita yang menghalangi kita menjalin relasi dengan Tuhan. Secara pribadidan berdasarkan pilihan kita, kita ada orang berdosa. “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23). Kita tidak dapat menyelamatkan diri sendiri. “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (Efesus 2:8-9). Kita pantas dibinasakan dan masuk neraka. “Sebab upah dosa ialah maut” (Roma 6:23).

Tuhan suci dan adil, dan harus menghukum dosa, namun Dia mengasihi kita dan telah menyediakan pengampunan untuk dosa-dosa kita. Yesus berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6). Yesus mati bagi kita di atas salib: “Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah” (1 Petrus 3:18). Yesus dibangkitkan dari antara orang mati: “Yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita (Roma 4:25).

Jadi kembali kepada pertanyaan kita yang semula – “Bagaimana saya tahu pasti bahwa saya akan masuk Surga saat saya meninggal dunia?” Jawabannya: percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan diselamatkan (Kisah Rasul 16:31). “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya” (Yohanes 1:12). Anda dapat menerima hidup kekal sebagai hadiah CUMA-CUMA. “Karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Roma 6:23). Anda dapat memiliki hidup yang berkelimpahan dan bermakna saat ini juga. Yesus berkata, “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yohanes 10:10). Anda dapat hidup dalam kekekalan bersama dengan Yesus di Surga karena Dia sudah berjanji, “Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada” (Yohanes 14:3).

Jikalau Anda mau menerima Yesus sebagai Juruselamat Anda dan menerima pengampunan dari Tuhan, berikut ini adalah sebuah doa yang dapat Anda doakan. Ingat, sekedar mengucapkan doa ini atau doa-doa lainnya tidak akan menyelamatkan Anda. Hanya percaya kepada Yesus yang akan menyelamatkan Anda dari dosa. Doa ini adalah sebuah cara untuk mengungkapkan kepada Tuhan bahwa Anda beriman kepadaNya dan untuk berterima kasih kepadaNya untuk keselamatan yang Dia sediakan bagi Anda. “Tuhan, saya tahu bahwa saya telah berdosa kepadaMu dan pantas untuk dihukum. Namun Yesus Kristus telah menanggung hukuman yang seharusnya saya tanggung sehingga dengan beriman kepadaNya saya dapat diampuni. Saya berbalik dari dosa-dosaku dan percaya kepadaMu untuk diselamatkan. Terima kasih untuk anugerah dan pengampunanMu yang indah! Amin!”


Pertanyaan: Adalah kehidupan setelah kematian?

Jawaban: 
Adakah kehidupan setelah kematian? Alkitab memberitahu kita, "Manusia yang lahir dari perempuan, singkat umurnya dan penuh kegelisahan. Seperti bunga ia berkembang, lalu layu, seperti bayang-bayang ia hilang lenyap dan tidak dapat bertahan. … Kalau manusia mati, dapatkah ia hidup lagi? (Ayub 14:1-2, 14)

Sama seperti Ayub, hampir setiap kita ditantang oleh pertanyaan ini. Apa yang terjadi kepada kita setelah kita meninggal dunia? Apakah kita hilang begitu saja? Apakah hidup itu suatu pintu yang berputar di mana orang datang dan pergi dari dunia ini supaya mendapat kemuliaan dan kebesaran? Apakah setiap orang pergi ke tempat yang sama, atau kita pergi ke tempat yang berbeda-beda? Apakah surga dan neraka ada, atau itu hanya suatu angan-angan?

Alkitab mengatakan bukan saja ada kehidupan setelah kematian, namun ada hidup kekal yang begitu mulia, “yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." (1 Korintus 2:9). Yesus Kristus, Allah dalam wujud manusia, datang ke dunia ini untuk memberi kita karunia hidup kekal. “Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh” (Yesaya 53:5). 

Yesus menanggung hukuman yang seharusnya setiap kita tanggung dan mengorbankan nyawaNya sendiri. Tiga hari kemudian, Dia membuktikan kemenanganNya atas kematian dengan bangkit dari kubur, dalam Roh dan tubuh. Dia tetap tinggal di bumi ini untuk empat puluh hari lamanya dan dilihat oleh ribuan orang sebelum akhirnya Dia naik ke rumahNya yang kekal di Surga. Roma 4:25 mengatakan, “Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita” (Roma 4:25). 

Kebangkitan Kristus adalah peristiwa yang dicatat dengan baik. Rasul Paulus menantang orang-orang yang mempertanyakan keabsahannya dan tidak seorangpun dapat menolak kebenarannya. Kebangkitan adalah batu penjuru dari iman Kristen. Karena Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, kita percaya kita pun akan dibangkitkan.

Paulus menasihati beberapa orang-orang Kristen mula-mula yang tidak percaya akan kebangkitan: “Jadi, bilamana kami beritakan, bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati? Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan” (1 Korintus 15:12-13).

Kristus adalah hasil pertama dari panen besar orang-orang yang akan dibangkitkan kembali. Kematian fisik menimpa semua orang melalui satu orang, Adam, yang punya hubungan dengan kita semua. Namun semua orang yang telah diadopsi ke dalam keluarga Allah melalui iman dalam Yesus Kristus akan diberikan hidup baru (1 Korintus 15:20-22). Sebagaimana Allah membangkitkan tubuh Yesus, demikian pula tubuh kita akan dibangkitkan saat Yesus datang kembali (1 Korintus 6:14). 

Walaupun pada akhirnya kita semua akan dibangkitkan, tidak semua orang akan masuk ke Surga. Dalam hidup ini setiap orang harus membuat pilihan di mana dia akan hidup dalam kekekalan. Alkitab mengatakan bahwa manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi (Ibrani 9:27). Mereka yang telah dibenarkan akan hidup kekal di surga, tetapi orang-orang yang tidak percaya akan masuk ke dalam hukuman kekal, atau neraka (Matius 25:46).

Sama seperti surga, neraka bukan hanya suatu keadaan, tapi merupakan sebuah tempat yang nyata. Neraka adalah sebuah tempat di mana orang-orang yang bedosa akan mengalami murka Tuhan secara kekal dan tanpa akhir. Mereka akan mengalami siksaan secara emosi, mental, dan fisik. Mereka akan merasa malu, menyesal dan bersalah.

Neraka digambarkan sebagai jurang yang tanpa dasar (Lukas 8:31, Wahyu 9:1), lautan api dan belerang, di mana para penghuninya disiksa siang dan malam untuk selama-lamanya (Wahyu 20:10). Di neraka akan ada tangisan dan kertak gigi, menunjukkan kesusahan dan kemarahan yang amat sangat (Matius 13:42). Neraka adalah tempat “di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam” (Markus 9:48). Allah tidak menikmati kebinasaan orang-orang jahat dan ingin untuk mereka berbalik dari jalan-jalan mereka yang sesat supaya mereka hidup (Yehezkiel 33:11). Namun Dia tidak memaksa kita untuk tunduk; jika kita terus menerus menolak Dia, Tuhan tidak punya pilihan lain selain memberi kita apa yang kita inginkan, hidup terpisah dari Dia.

Hidup di atas bumi ini adalah suatu ujian, suatu persiapan untuk apa yang akan datang. Bagi orang-orang percaya itu adalah hidup kekal di hadapan Tuhan. Jadi bagaimana kita dibenarkan dan dapat menerima hidup kekal? Hanya ada satu jalan – melalui iman dan kepercayaan kepada Anak Allah, Yesus Kristus. Yesus berkata, "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya.…" (Yohanes 11:25-26).

Karunia hidup kekal tersedia bagi semua orang, tapi untuk menerimanya kita perlu menolak beberapa kesenangan duniawi dan mempersembahkan diri kita kepada Tuhan. “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya." (Yohanes 3:36). Kita tidak akan memperoleh kesempatan untuk bertobat dari dosa-dosa kita setelah kita meninggal dunia karena setelah kita bertemu Tuhan muka dengan muka kita tidak ada pilihan lain selain percaya kepadaNya. Tuhan menghendaki kita datang kepadaNya di dalam iman dan kasih sekarang ini. Jika kita menerima kematian Yesus sebagai pembayaran atas dosa dan pemberontakan kita terhadap Tuhan, kita dijamin bukan hanya memperoleh hidup yang berarti di dunia ini, namun juga hidup kekal di hadapan Kristus.

Jikalau Anda mau menerima Yesus sebagai Juruselamat Anda dan menerima pengampunan dari Tuhan, berikut ini adalah sebuah doa yang dapat Anda doakan. Ingat, sekedar mengucapkan doa ini atau doa-doa lainnya tidak akan menyelamatkan Anda. Hanya percaya kepada Yesus yang akan menyelamatkan Anda dari dosa. Doa ini adalah sebuah cara untuk mengungkapkan kepada Tuhan bahwa Anda beriman kepadaNya dan untuk berterima kasih kepadaNya untuk keselamatan yang Dia sediakan bagi Anda. “Tuhan, saya tahu bahwa saya telah berdosa kepadaMu dan pantas untuk dihukum. Namun Yesus Kristus telah menanggung hukuman yang seharusnya saya tanggung sehingga dengan beriman kepadaNya saya dapat diampuni. Saya berbalik dari dosa-dosaku dan percaya kepadaMu untuk diselamatkan. Terima kasih untuk anugerah dan pengampunanMu yang indah – karunia hidup kekal! Amin!”





April 24, 2015

Pertanyaan: Apakah Yesus satu-satunya jalan ke Surga?

Jawaban: 
“Saya ini pada dasarnya adalah orang baik, karena itu saya akan masuk Surga.” “OK, saya ada melakukan beberapa hal yang tidak baik, tapi saya melakukan lebih banyak hal-hal yang baik, jadi saya akan masuk surga.” “Tuhan tidak akan memasukkan saya ke neraka hanya karena saya tidak hidup sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Alkitab. Zaman sudah berubah!” “Hanya orang yang betul-betul jahat, seperti orang yang suka mengganggu anak-anak dan pembunuh yang masuk neraka.”

Ini adalah alasan-alasan yang sering dikemukakan orang, namun kenyataannya, semuanya adalah bohong. Iblis, penguasa dunia, menanamkan konsep-konsep itu dalam pikiran kita. Dia, dan setiap orang yang mengikuti jalannya, adalah musuh Tuhan (1 Petrus 5:8). Iblis selalu menyaru sebagai pribadi yang baik (2 Korintus 11:14), tetapi dia menguasai semua pikiran yang bukan milik Tuhan. “yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah (2 Korintus 4:4).

Adalah suatu kebohongan kalau dikatakan bahwa Tuhan tidak peduli pada dosa-dosa kecil, dan bahwa neraka disediakan hanya bagi “orang jahat.” Segala macam dosa memisahkan kita dari Allah, termasuk “dusta putih dan kecil.” Setiap orang sudah berdosa dan tidak seorangpun yang dapat masuk ke surga dengan upaya sendiri (Roma 3:23). Masuk ke surga bukanlah berdasarkan apakah kebaikan kita lebih banyak dari kejahatan kita. Kalau itu ukurannya, kita semua akan kalah. “Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia” (Roma 11:6). Tidak ada perbuatan baik yang dapat kita lakukan untuk membawa kita masuk surga (Titus 3:5).

“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya” (Matius 7:13). Bahkan jikalau semua orang hidup dalam dosa dan tidak banyak yang percaya kepada Tuhan, Tuhan tidak akan menerima itu sebagai alasan. “Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka (Efesus 2:2).

Ketika Tuhan menciptakan dunia, dunia sempurna adanya. Segalanya baik. Kemudian Dia menciptakan Adam dan Hawa dan memberi mereka kehendak bebas sehingga mereka dapat memilih mau mengikuti dan menaati Tuhan atau tidak. Namun Adam dan Hawa, manusia yang pertama yang diciptakan Tuhan, digoda oleh Iblis untuk tidak taat kepada Tuhan dan mereka berdosa. Akibatnya mereka (dan semua orang yang lahir kemudian, termasuk kita) tidak dapat memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan. Maka Tuhan membuka jalan supaya kita dapat dipersatukan dengan Dia di surga. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16). “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Roma 6:23). Yesus dilahirkan supaya Dia dapat menunjukkan jalan kepada kita dan mati bagi dosa-dosa kita sehingga kita tidak perlu mati. Tiga hari setelah kematianNya, Yesus bangkit dari kubur (Roma 4:25), membuktikan kemenanganNya atas kematian. Dia menjembatani jurang antara Allah dan manusia sehingga kita dapat memiliki hubungan pribadi dengan Allah jika kita mau percaya.

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yohanes 17:3). Kebanyakan orang percaya tentang Tuhan, termasuk Iblis. Tapi supaya diselamatkan, kita perlu berbalik kepada Tuhan, menjalin hubungan pribadi dengan Dia, berbalik dari dosa-dosa kita dan mengikuti Dia. Kita mesti percaya kepada Yesus dalam segala hal yang kita miliki dan lakukan. “Allah memungkinkan manusia berbaik dengan Dia, hanya kalau manusia percaya kepada Yesus Kristus. Allah berbuat ini untuk semua orang yang percaya kepada Kristus; sebab tidak ada perbedaannya” (Roma 3:22). Alkitab mengajarkan kita bahwa tidak ada jalan lain untuk mendapatkan keselamatan selain melalui Kristus. Yesus berkata dalam Yohanes 14:6, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6).

Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan karena Dia adalah satu-satunya yang dapat membayar hutang dosa kita (Roma 3:23). Tidak ada agama lain yang mengajarkan dalamnya dan seriusnya dosa kita dan akibat-akibatnya. Tidak ada agama yang menawarkan pembayaran dosa seperti yang disediakan oleh Yesus. Tidak ada “pendiri agama” lain yang adalah Allah yang menjelma menjadi manusia (Yohanes 1:1, 14 – satu-satunya cara untuk melunasi utang dosa. Yesus haruslah Allah supaya Dia dapat membayar hutang kita. Yesus harus menjadi seorang manusia supaya Dia bisa mati. Keselamatan hanya tersedia melalui iman di dalam Yesus Kristus! “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan" (Kisah 4:12).

April 23, 2015

Pertanyaan: Bagaimana saya bisa benar di hadapan Tuhan?

Jawaban: 
Agar dapat menjadi “benar” dengan Tuhan, pertama-tama kita perlu tahu apa yang “salah.” jawabannya: dosa. “Tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.” (Mazmur 14:3). Kita telah memberontak melawan hukum-hukum Tuhan, kita “sekalian sesat seperti domba” (Yesaya 53:6).

Kabar buruknya adalah bahwa hukuman dosa adalah kematian. “Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati.” (Yehezkiel 18:4) Kabar baiknya adalah Allah yang Pengasih telah mencari kita untuk memberi kita keselamatan. Yesus mengumumkan bahwa maksud kedatanganNya adalah untuk “mencari dan menyelamatkan yang hilang" (Lukas 19:10), dan Dia mengumumkan bahwa rencanaNya sudah dipenuhi ketika Dia mati di atas salib dan mengatakan, "Sudah selesai!" (Yohanes 19:30). 

Memiliki hubungan yang benar dengan Allah dimulai dengan mengakui dosa Anda. Langkah berikutnya adalah dengan rendah hati mengaku dosa kepada Tuhan (Yesaya 57:15) dan ketekadan untuk meninggalkan dosa. “Dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan” (Roma 10:10).

Penyesalan semacam ini harus dibarengi dengan iman. Khususnya iman kepada kematian dan kebangkitan Yesus yang memungkinkan Dia menjadi Juruselamat Anda. “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” (Roma 10:9). Masih banyak lagi ayat-ayat lain yang berbicara mengenai pentingnya iman, seperti misalnya Yohanes 20:27, Kisah Rasul 16:31, Galatia 2:16, 3:11, 26 dan Efesus 2:8.

Menjadi benar dengan Tuhan adalah berhubungan dengan respon Anda terhadap apa yang Tuhan telah lakukan atas nama Anda. Dia mengirimkan Juruselamat, Dia menyediakan korban yang menghapus dosa-dosa Anda (Yohanes 1:29), dan Dia menawarkan janji ini, “Barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan.” (Kisah 2:21).

Ilustrasi yang indah mengenai penyesalan dan pengampunan ditemukan dalam perumpamaan Anak yang Hilang (Lukas 15:11-32). Anak yang bungsu menghambur-hamburkan pemberian ayahnya dalam dosa yang memalukan (ayat 13). Ketika dia mengakui kesalahannya, dia memutuskan untuk kembali ke rumah (ayat 18). Dia menganggap bahwa dia tidak akan dianggap sebagai anak lagi *ayat 19), tapi dia salah. Sang ayah tetap mengasihi sang pemberontak yang pulang ke rumah itu dengan kasih yang tidak berubah (ayat 20). Segala kesalahannya diampuni dan pesta diadakan (ayat 24).

Allah setia dalam memelihara janji-janjinya, termasuk janji untuk mengampuni. “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya” (Mazmur 34:19).

Jikalau Anda ingin menjadi benar dengan Tuhan, berikut ini adalah sebuah contoh doa. Ingat, sekedar mengucapkan doa ini atau doa-doa lainnya tidak akan menyelamatkan Anda. Hanya percaya kepada Yesus yang akan menyelamatkan Anda dari dosa. Doa ini adalah sebuah cara untuk mengungkapkan kepada Tuhan bahwa Anda beriman kepadaNya dan untuk berterima kasih kepadaNya untuk keselamatan yang Dia sediakan bagi Anda. “Tuhan, saya tahu bahwa saya telah berdosa kepadaMu dan pantas untuk dihukum. Namun Yesus Kristus telah menanggung hukuman yang seharusnya saya tanggung sehingga dengan beriman kepadaNya saya dapat diampuni. Saya berbalik dari dosa-dosaku dan percaya kepadaMu untuk diselamatkan. Terima kasih untuk anugerah dan pengampunanMu yang indah, yaitu karunia hidup kekal! Amin!”




Pertanyaan: Apa empat hukum rohani itu?

Jawaban:
Empat Hukum Rohani adalah cara untuk membagikan kabar baik mengenai keselamatan yang tersedia melalui beriman di dalam Yesus Kristus. Empat Hukum Rohani adalah cara sederhana untuk menata informasi penting mengenai Injil ke dalam empat butir.

Hukum yang pertama dari Empat Hukum Rohani adalah “Tuhan mengasihi Anda dan memiliki rencana yang indah bagi hidup Anda.” Yohanes 3:16 memberitahu kita, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 10:10 memberi kita alasan kedatangan Yesus, “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Apa yang menghalangi kita dari kasih Allah? Apa yang menghalangi kita dari hidup yang berkelimpahan?

Hukum yang kedua dari Empat Hukum Rohani adalah “Manusia telah dinodai oleh dosa dan karena itu terpisah dari Tuhan sehingga kita tidak dapat mengenal rencana Allah bagi hidup kita.” Roma 3:23 meneguhkan hal ini, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Roma 6:23 memberitahu kita akibat dari dosa, “upah dosa ialah maut.” Tuhan menciptakan kita supaya kita bersekutu dengan Dia. Namun manusia membawa dosa ke dalam dunia dan karena itu terpisah dari Allah. Kita telah merusak hubungan yang Tuhan mau kita miliki. Apa solusinya?

Hukum ketiga dari Empat Hukum Rohani adalah “Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan keluar dari dosa-dosa kita. Melalui Yesus Kristus dosa kita diampuni dan hubungan kita dengan Tuhan dipulihkan kembali.” Roma 5:8 memberitahu kita, “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” 1 Korintus 15:3-4 memberitahukan apa yang kita perlu tahu dan percaya supaya bisa diselamatkan, “bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci…” Dalam Yohanes 14:6, Yesus sendiri menyatakan bahwa Dia adalah satu-satunya jalan keselamatan, Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Bagaimana saya dapat menerima angerah keselamatan yang begitu indah ini?

Hukum keempat dari Empat Hukum Rohani adalah, “Kita harus beriman kepada Tuhan Yesus sebagai Juruselamat kita agar dapat menerima anugerah keselamatan dan mengetahui rencana indah Tuhan bagi hidup kita.” Yohanes 1:12 memberikan gambaran sedemikian kepada kita, “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.” Kisah Rasul 16:31 mengatakan dengan sangat jelas, “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat!" Kita diselamatkan semata-mata karena anugerah, hanya melalui iman di dalam Yesus Kristus (Efesus 2:8-9).

Jikalau Anda mau percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat Anda, ungkapkan kepada Tuhan kata-kata berikut ini. Sekedar mengucapkan kata-kata ini tidak akan menyelamatkan Anda, hanya percaya kepada Tuhan Yesus yang akan menyelamatkan Anda. Doa ini hanyalah sebuah cara sederhana untuk mengungkapkan iman Anda kepada Tuhan dan untuk bersyukur kepadaNya untuk keselamatan yang Dia telah sediakan. “Tuhan, saya tahu bahwa saya telah berdosa kepadaMu dan pantas untuk dihukum. Namun Yesus Kristus telah menanggung hukuman saya sehingga melalui iman kepadaNya saya dapat diampuni. Saya bertobat dari dosa-dosaku dan percaya kepadamu untuk diselamatkan. Terima kasih untuk anugerah dan pengampunanMu yang ajaib, karunia hidup kekal! Amin!



Pertanyaan: Apa artinya menjadi orang Kristen yang lahir kembali?

Jawaban: 
Apa artinya menjadi orang Kristen yang lahir kembali? Bagian Alkitab yang sering dipakai untuk menjawab pertanyaan ini adalah Yohanes 3:1-21. Tuhan Yesus Kristus sementara berbicara dengan Nikodemus, orang Parisi yang ternama, dan anggota Sanhedrin (penguasa orang Yahudi). Nikodemus datang kepada Yesus pada malam hari. Nikodemus memiliki pertanyaan yang mau ditanyakan kepada Yesus.

Sementara Yesus berbicara dengan Nikodemus, Dia berkata, “…Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." Kata Nikodemus kepada-Nya: "Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?" Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh. Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. (Yohanes 3:3-7).

Kata “dilahirkan kembali” secara harafiah berarti “lahir dari atas.” Nikodemus memiliki kebutuhan yang nyata. Dia memerlukan perubahan hati, suatu transformasi rohani. Lahir baru, lahir kembali, adalah tindakan Allah yang memungkinkan untuk hidup kekal diberikan kepada orang yang percaya (2 Korintus 5:17; 1 Petrus 1:3; 1 Yohanes 2:29; 3:9; 5:1-4, 18). Yohanes 1:12, 13 mengindikasikan bahwa “lahir kembali” juga berarti “menjadi anak-anak Allah” melalui percaya dalam nama Yesus Kristus. 

Secara logika muncul pertanyaan, “Mengapa seseorang perlu dilahirkan kembali?” Rasul Paulus dalam Efesus 2:1 mengatakan, “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. Kepada orang-orang Roma, dalam Roma 3:23, sang Rasul menuliskan, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Jadi, orang perlu dilahirkan kembali supaya dosa-dosa mereka diampuni dan agar dapat berhubungan dengan Allah.

Bagaimana hal itu dapat terjadi? Efesus 2:8,9 menjelaskan, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” (Efesus 2:8-9). Ketika orang “diselamatkan,” dia dilahirkan kembali, diperbaharui secara rohani, dan sekarang orang itu menjadi anak Allah karena dilahirkan kembali. Percaya kepada Yesus Kristus, Dia yang telah membayar hukuman dosa ketika Dia mati di kayu salib, adalah arti dari “lahir kembali” secara rohani. “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru …” (2 Korintus 5:17a)

Jikalau Anda belum pernah percaya kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat Anda, maukah Anda menerima gerakan Roh Kudus yang berbicara dalam hati Anda? Anda perlu dilahirkan kembali. Maukah Anda mengucapkan doa penyesalan dan menjadi ciptaan baru di dalam Kristus hari ini? “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah” (Yohanes 1:12-13).

Jikalau Anda bersedia menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat Anda dan dilahirkan kembali, di sini ada sebuah contoh doa. Ingat, sekedar mengucapkan doa ini atau doa-doa lainnya tidak akan menyelamatkan Anda. Hanya dengan percaya kepada Kristus yang dapat menyelamatkan Anda dari dosa-dosa Anda. Doa ini hanyalah sebuah cara untuk mengungkapkan iman Anda kepada Tuhan dan untuk berterima kasih kepadaNya untuk keselamatan yang Dia telah sediakan untuk Anda. “Tuhan, saya tahu saya telah berdosa terhadap Engkau dan saya pantas dihukum. Namun Yesus Kristus telah menanggung hukuman yang sepantasnya saya tanggung sehingga dengan beriman kepadaNya saya dapat diampuni. Saya bertobat dari dosa-dosa saya dan percaya kepadaMu untuk menerima keselamatan. Terima kasih untuk anugerah dan pengampunanMu yang ajaib, karunia hidup kekal! Amin!


April 18, 2015


Pertanyaan: Apa itu orang Kristen?

Jawaban: 
Kamus Webster mendefinisikan orang Kristen sebagai “orang yang mengaku percaya kepada Yesus sebagai Kristus, atau percaya kepada agama yang berdasarkan pengajaran Yesus.” Walaupun ini adalah titik tolak yang bagus dalam memahami apa itu orang Kristen, sebagaimana banyak definisi sekular lainnya, definisi ini kurang dapat menjelaskan kebenaran Alkitab mengenai apa artinya menjadi seorang Kristen.

Kata “Kristen” digunakan tiga kali dalam Perjanjian Baru (Kisah Rasul 11:26; 26:28; 1 Petrus 4:16). Para pengikut Yesus Kristus pertama kali digelari “Kristen” di Antiokhia (Kisah Rasul 11:26) karena kelakuan mereka, kegiatan dan kata-kata mereka yang seperti Kristus. Pada mulanya istilah ini dipakai oleh orang-orang tidak percaya di Antiokhia sebagai ejekan dan penghinaan terhadap orang-orang Kristen. Secara harafiah istilah tsb berarti “menjadi bagian dari kelompok Kristus” atau “pengikut Kristus,” yang mirip artinya dengan definisi dalam Kamus Wesbter.

Sayangnya, setelah sekian waktu lamanya, kata “Kristen” telah kehilangan sebagian besar dari maknanya dan sering dipergunakan untuk seseorang yang beragama atau yang memiliki nilai-nilai moral yang tinggi, dan bukan dipakai untuk pengikut Yesus Kristus yang sudah betul-betul lahir kembali. Banyak orang yang tidak percaya kepada Yesus Kristus menganggap mereka orang-orang Kristen hanya karena mereka ke gereja atau karena mereka tinggal di negara “Kristen”. Pergi ke gereja, membantu orang-orang yang kurang beruntung, menjadi orang baik, semua itu tidak menjadikan Anda orang Kristen. Seperti dikatakan oleh seorang penginjil, “Pergi ke gereja tidak membuat orang jadi orang Kristen, sama seperti masuk ke garasi tidak membuat orang jadi mobil.” Menjadi anggota gereja, mengikuti kebaktian secara teratur dan menyumbang untuk gereja tidak membuat Anda menjadi orang Kristen.

Alkitab mengajarkan kita bahwa perbuatan-perbuatan baik kita tidak dapat membuat kita diterima oleh Tuhan. Titus 3:5 mengatakan, “bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus.” Jadi orang Kristen adalah seorang yang sudah dilahirkan kembali oleh Allah (Yohanes 3:3; 3:7; 1 Peter 1:23) dan yang telah menempatkan iman dan percaya mereka di dalam Yesus Kristus. Efesus 2:8 mengatakan, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah.” Seorang Kristen yang sejati adalah seseorang yang telah meninggalkan dosa-dosanya dan menempatkan iman dan percayanya hanya kepada Yesus Kristus. Kepercayaannya bukanlah kepada agama atau ajaran-ajaran moral, atau apa yang boleh dan tidak boleh.

Seorang Kristen yang sejati adalah seorang yang telah menempatkan iman dan percayanya kepada Yesus Kristus, dan bahwa Dia telah mati di salib sebagai pembayaran dosa, dan bangkit kembali pada hari ketiga untuk mendapatkan kemenangan atas kematian dan memberi hidup kekal kepada setiap orang yang percaya kepadaNya. Yohanes 1:12 memberitahu kita, “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.” Seorang Kristen yang sejati sesungguhnya adalah seorang anak Allah, anggota dari keluarga Allah, dan seorang yang telah diberikan hidup baru di dalam Kristus. Tanda dari orang Kristen yang sejati adalah kasihnya kepada sesamanya dan ketaatannya kepada Firman Tuhan (1 Yohanes 2:4; 1 Yohanes 2:10).



April 17, 2015

PERNAH RAGU KESELAMATAN ANDA !!!!
28 Dan kita tahu bahwa bagi mereka yang mengasihi Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
29 Bagi yang ia dari semula ia juga ditakdirkan untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya ia bisa menjadi yang sulung di antara banyak saudara.
30 Dan orang-orang yang ia ditakdirkan ia juga disebut, dan orang-orang yang ia sebut dia juga dibenarkan, dan orang-orang yang dibenarkan ia juga dimuliakan. - Roma 8: 28-30
Paulus dalam surat kepada jemaat di Roma yang membahas doktrin pembenaran oleh kasih karunia melalui iman, yaitu kebenaran dimana kita diselamatkan. Dan dia membahas dalam semua fitur-fiturnya. Dia berbicara tentang kondisi manusia dalam dosa dalam tiga bab pertama, dan mulai menjelang akhir bab 3 dan semua jalan melalui pasal 7 ia berbicara tentang pembenaran dan buah-buahan yang, atau dampaknya. Kemudian pada pasal 8 ia memberikan kepada kita realitas besar pembenaran yang abadi, bahwa siapa pun yang Tuhan membenarkan Dia memuliakan, bahwa siapa pun yang disimpan pada awalnya akan disimpan pada akhirnya. Dengan kata lain, bahwa kita selamanya aman dan akan bertahan dalam iman sampai akhir. Bahwa kebenaran besar pasal 8 diringkas dalam ayat-ayat. Mereka meringkas seluruh doktrin keamanan kekal. "Siapa pun Tuhan dari semula Ia ditakdirkan, siapa pun dia ditakdirkan Ia menyebut, siapa pun Dia memanggil Dia dibenarkan, dan siapa pun yang Dia membenarkan Dia dimuliakan." Dan tidak ada yang hilang dalam proses dan itu adalah karena "Allah menyebabkan segala sesuatu untuk bekerja sama untuk kebaikan mereka." Itu adalah jumlah teks yang indah ini. Pembenaran adalah kekal.
Pembenaran dan karakter yang kekal dijamin untuk percaya oleh kementerian luar biasa dari Roh Kudus yang karyanya diuraikan dalam bab ini. Ini adalah Roh yang mengamankan kita dalam status tidak ada penghukuman. Kami akan pernah dihukum, kita dijamin selamanya dibenarkan dalam status tidak ada kecaman karena pekerjaan Roh Kudus.
PERNAH RAGU KESELAMATAN ANDA !!!!


Menjadi Perhatian Kebutuhan Orang Lain
"Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya berdiri di dekatnya, Dia berkata kepada ibu-Nya," Ibu, inilah, anakmu! "(Yohanes 19:26).
Tidak peduli apa cobaan yang kita miliki, masih mungkin untuk khawatir untuk kebutuhan orang lain.
Sebagai waktu untuk kematian Yesus semakin dekat, kesejahteraan ibunya berada di hati dan pikiran. Perhatian-Nya konsisten dengan apa yang telah kita lihat dalam studi singkat dari beberapa kata-kata terakhir Yesus di kayu salib-Tuhan kita setia dalam pelayanan tidak peduli apa biaya.
Berikut objek fokus Yesus bergeser ke sekelompok kecil teman-teman lima di kaki salib-Nya. Dan keluar dari band simpatik ini, yang termasuk murid Yohanes, Salome (ibu John), Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena, perhatian Kristus menarik terutama terhadap Ibunya.
Maria, ibu Tuhan kita, mungkin adalah orang yang paling membutuhkan apapun dalam klaster yang berdiri di bawah salib. Dia kemungkinan besar janda saat ini; jika tidak, Yesus tidak akan ditampilkan begitu banyak perhatian khusus bagi kesejahteraan masa depannya. Mary juga melihat dan merasakan pemenuhan nubuat Simeon bahwa jiwanya akan ditusuk karena Yesus (Lukas 2: 34-35). Ditarik ke tempat eksekusi anaknya dengan penuh kasih perhatian dan kesedihan, Mary berdiri dengan orang lain tapi jelas merasa sangat kesepian saat ia menderita diam-diam.
Pada saat itu Yesus anggun campur tangan dan mengingatkan Maria bahwa ia harus menganggap Dia tidak terutama sebagai anaknya tetapi sebagai Juruselamatnya. Ketika Yesus memanggil Maria "Perempuan," Dia menggunakan judul hormat. Niatnya hanya untuk melakukan Mary ke perawatan John.
Di Kalvari, Kristus mengalami penderitaan salib, beban dosa dunia, dan murka Allah Bapa. Namun melalui semua cobaan-Nya, yang berada di luar pemahaman kita, Yesus mengambil beberapa saat untuk menunjukkan kasih sayang kepada orang lain yang sakit. Itu pola yang harus kita ikuti. Kita tidak boleh begitu kewalahan dengan rasa sakit kita sendiri dan percobaan-dan tentu saja tidak rutin hidup, peduli harian, dan beban-bahwa kita melupakan kebutuhan orang lain.
Saran untuk Doa
Terima kasih Tuhan untuk contoh yang luar biasa Yesus belas kasih di tengah-tengah keadaan yang paling buruk.
Untuk studi lebih lanjut
Baca Matius 27:46; Yohanes 19:28; Yohanes 19:30; dan Lukas 23:46.
Apa ciri-ciri tambahan yang ini mengungkapkan tentang Yesus?
Carilah setidaknya satu contoh yang dapat diterapkan ke kehidupan Anda.


April 14, 2015

Seberapa penting adalah pertumbuhan rohani dalam kehidupan Kristen
Pertumbuhan rohani adalah proses menjadi lebih dewasa dalam hubungan seseorang dengan Yesus Kristus. Seseorang yang tumbuh secara rohani akan menjadi lebih dan lebih seperti Kristus. The dewasa rohani akan dapat "membedakan yang baik dari yang jahat" (Ibrani 5:14). Pertumbuhan rohani dimulai saat seseorang datang kepada iman dalam Kristus dan harus berlanjut sampai seseorang memasuki kehadiran Kristus setelah kehidupan ini.
Pertumbuhan rohani yang diharapkan dari orang percaya. Penulis Ibrani menegur para pembacanya untuk "tidak lagi mencoba [ing] untuk memahami" (Ibrani 5:11 NIV) dan "menjadi masih bayi" (ayat 13). Kritik mengarah ke nasehat: "Oleh karena itu marilah kita meninggalkan ajaran dasar dari Kristus dan menuju kedewasaan" (Ibrani 6: 1) .suatu Rasul Petrus mengatakan, "Tumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita Yesus Kristus" ( 2 Petrus 3:18).
Alkitab menawarkan wawasan berharga bagaimana seorang Kristen dapat bertumbuh secara rohani. Ini adalah kuasa Kristus di dalam orang percaya yang memberi kita kemampuan untuk tumbuh secara rohani (2 Petrus 1: 3; Efesus 3:20). Seperti kita mengandalkan kekuatan-Nya dan mengikuti ajaran-Nya, kita dapat mengembangkan kedewasaan yang lebih besar.
Peter menyediakan mengintip proses: "melakukan segala upaya untuk melengkapi iman Anda dengan kebajikan, dan kebajikan dengan pengetahuan, dan pengetahuan dengan kontrol diri, dan pengendalian diri dengan ketabahan, dan ketekunan dengan kesalehan, dan kesalehan dengan kasih sayang persaudaraan, dan kasih sayang persaudaraan dengan cinta Karena jika kualitas ini adalah milikmu dan meningkat, mereka membuat Anda dari menjadi tidak efektif atau tidak berbuah dalam pengetahuan tentang Tuhan kita Yesus Kristus "(2 Petrus 1: 5-8)..
Keterlibatan dalam sebuah gereja lokal dan karunia-karunia rohani kita yang sangat berharga bagi perkembangan kematangan (Efesus 4: 11-16). Daripada terombang-ambing oleh setiap doktrin bersalah yang datang, kita dapat berbicara "kebenaran di dalam kasih," sehingga "kita akan dalam segala hal tumbuh menjadi orang yang adalah Kepala, yaitu Kristus" (ayat 15) .
Untuk mengevaluasi pertumbuhan rohani, kita dapat mengukur perbaikan kami di "buah Roh." Roh keinginan untuk menghasilkan kualitas ini dalam diri kita: "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri" (Galatia 5: 22-23). Apakah kita meningkat dalam kasih? dalam sukacita? dalam kesabaran? Jika demikian, kita tumbuh secara rohani.

Kita harus menyadari bahwa pertumbuhan sering datang melalui uji coba. Sama seperti kekuatan fisik dibangun melalui tenaga dan tegang terhadap perlawanan, kekuatan spiritual dikembangkan di masa-masa sulit dalam hidup. "Tidak ada rasa sakit, tidak ada keuntungan," seperti yang mereka katakan. James memberikan dorongan: "anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, saudara-saudaraku, ketika Anda menghadapi pencobaan dari berbagai jenis, untuk Anda tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan Dan biarkan ketabahan memiliki efek penuh, Anda mungkin menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan. dalam apa-apa "(Yakobus 1: 2-4).
Karena pertumbuhan datang melalui uji coba, Alkitab juga mengajarkan kita untuk tidak jemu-jemu dalam proses. Perkembangan spiritual banyak adalah hasil dari ketekunan. "Seperti untuk Anda, saudara-saudara, tidak jemu-jemu berbuat baik" (2 Tesalonika 3:13). "Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena pada waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menyerah" (Galatia 6: 9).
Ini adalah kehendak Tuhan bahwa kita tumbuh menjadi lebih seperti Yesus. Kami juga memiliki janji bahwa Tuhan sendiri akan mengawasi pertumbuhan kami dan membawa kami hingga jatuh tempo. "Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu akan membawanya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus" (Filipi 1: 6 NIV).
"Akhirnya, saudara-saudara, bersukacita Bertujuan untuk restorasi, kenyamanan satu sama lain, setuju dengan satu sama lain, hidup dalam damai,. Dan Allah kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu" (2 Korintus 13:11).


April 12, 2015

Pertanyaan: Apa artinya bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah?

Jawaban: 
Ketika Yesus disebut sebagai Anak Domba Allah dalam Yohanes 1:29 dan 1:36, hal ini adalah merujuk pada Yesus sebagai korban yang terutama dan sempurna untuk dosa. Untuk memahami siapakah Kristus dan apa yang Dia lakukan, kita harus memulai dengan Perjanjian Lama yang mengandung nubuat-nubuat mengenai kedatangan Kristus sebagai “korban penebus salah” (Yesaya 53:10). Bahkan sebetulnya seluruh sistim korban persembahan yang ditetapkan Allah dalam Perjanjian Lama mempersiapkan pentas untuk kedatangan Yesus Kristus, yang adalah korban yang sempurna yang Allah persiapkan sebagai penebusan untuk dosa-dosa umatNya (Roma 8:3, Ibrani 10).

Mempersembahkan domba memainkan peranan yang amat penting dalam kehidupan agama orang-orang Yahudi dan sistim persembahan mereka. Ketika Yohanes Pembaptis merujuk pada Yesus sebagai “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.” (Yohanes 1:29), orang-orang Yahudi yang mendengarnya mungkin langsung memikirkan salah satu dari beberapa korban persembahan yang penting. Menjelang Hari Raya Paskah, pikiran yang pertama mungkin adalah korban persembahan Anak Domba Paskah. Hari Raya Paskah adalah salah satu hari raya utama orang Yahudi dan suatu perayaan untuk memperingati saat Allah melepaskan orang-orang Israel dari perbudakan di Mesir. Kenyataannya, penyembelihan anak domba Paskah dan menaruh darah di ambang pintu rumah agar supaya malaikat maut melewati mereka “yang ditutupi oleh darah” (Keluaran 12:11-13) adalah merupakan gambaran yang indah mengenai karya penebusan Kristus di atas salib. 

Persembahan lain yang melibatkan domba adalah persembahan sehari-hari di Bait Suci di Yerusalem. Setiap pagi dan petang seekor domba dipersembahkan di Bait Allah bagi dosa-dosa orang banyak (Keluaran 29:38-42). Persembahan sehari-hari ini, sama seperti semua lainnya, sekedar menunjuk kepada persembahan Kristus yang sempurna di atas salib. Kenyataannya saat kematian Yesus di atas salib bertepatan dengan saat korban petang dilakukan di Bait Suci. Orang-orang Yahudi pada waktu itu akan kenal baik dengan nabi-nabi Perjanjian Lama, yaitu Yeremia dan Yesaya, yang nubuatnya sudah lebih dahulu memberitahukan datangnya seseorang yang akan dituntun “seperti seekor domba ke pembantaian” (Yeremia 11:19, Yesaya 53:7) dan yang penderitaan dan pengorbananNya akan menebus Israel. Sudah barang tentu orang yang dinubuatkan oleh para nabi Perjanjian Lama ini tidak lain adalah Yesus Kristus, “sang Anak Domba Allah.”

Sekalipun konsep mengenai sistim korban persembahan mungkin asing bagi kita pada zaman sekarang, konsep penebusan atau penggantian adalah sesuatu yang dapat kita pahami dengan mudah. Kita tahu bahwa upah dosa adalah kematian (Roma 6:23) dan bahwa dosa kita memisahkan kita dari Allah. Kita juga tahu bahwa Alkitab mengajarkan bahwa kita semua adalah orang berdosa dan tidak seorangpun yang benar di hadapan Allah (Roma 3:23). Karena dosa kita, kita terpisah dari Allah dan kita bersalah di hadapanNya; oleh karena itu, satu-satunya harapan kita adalah kalau Dia bersedia menyediakan jalan untuk kita diperdamaikan dengan diriNya dan itulah yang dilakukanNya dalam mengutus AnakNya Yesus Kristus untuk mati di salib. Kristus mati untuk menebus dosa dan untuk membayar hukuman dosa dari semua yang percaya kepadaNya. 

Melalui kematianNya di atas salib sebagai korban yang sempurna untuk dosa dan kebangkitanNya tiga hari kemudian maka kita sekarang dapat memiliki hidup kekal jikalau kita percaya kepadaNya. Fakta bahwa Allah sendiri yang telah menyediakan korban yang menebus atau membayar dosa kita adalah bagian dari kabar baik yang mulia dari Injil yang begitu jelas dinyatakan dalam 1 Petrus 1:18-21, “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat. Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir. Oleh Dialah kamu percaya kepada Allah, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan yang telah memuliakan-Nya, sehingga imanmu dan pengharapanmu tertuju kepada Allah.”




Apakah dosa memiliki pikiran mengganggu?
Pemikiran mengganggu adalah tidak disengaja, tidak diinginkan gambar, frase, atau dorongan. Mereka sangat umum; hampir setiap orang memiliki mereka dari waktu ke waktu. Kadang-kadang mereka bersifat kekerasan, lain kali mereka seksual. Seringkali mereka menghujat atau menyebabkan ketakutan besar telah melakukan ritual benar. Mereka bisa sangat membingungkan, terutama ketika mereka benar-benar bertentangan dengan apa yang benar-benar percaya seseorang.
Mazmur 139: 2 mengatakan, "Anda tahu ketika aku duduk dan ketika saya bangkit, Anda melihat pikiran saya dari jauh." Tuhan tahu pikiran kita, dan Dia tahu bagaimana substansial mereka dapat (Mazmur 94:11). Tapi kita cenderung lupa bahwa Ia juga tahu maksud di balik pikiran kita. Dia tahu orang fasik akan menghujat nama-Nya "Dalam kebanggaan wajahnya orang fasik tidak mencari dia, semua pikirannya," Tidak ada Tuhan '"(Mazmur 10: 4), tetapi Dia selalu siap untuk mengampuni ( Yesaya 55: 7). Tuhan tahu bahwa orang Kristen dapat memiliki pikiran mengganggu juga. Dia tampak lebih dalam dari gambar sekilas, "... sebab TUHAN mencari semua hati dan memahami setiap rencana dan pikiran," (1 Tawarikh 28: 9). Dia dengan mudah dapat menilai antara pikiran, keyakinan, dan niat (Ibrani 4:12).
Tuhan juga memiliki rencana untuk mencegah pikiran mengganggu. Pikiran mengganggu belum tentu dosa, tetapi tindakan kita mengambil mengarah ke pikiran mungkin. Jika kita mengisi pikiran kita dengan hal-hal yang fasik, pikiran menghujat dan berbahaya akan lebih mungkin untuk datang. Filipi 4: 8 mengatakan, "Jadi akhirnya, saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang indah, apa pun yang terpuji, jika ada keunggulan apapun, jika ada sesuatu yang terpuji, berpikir tentang hal ini. " Dan bahkan jika tindakan kita menyebabkan pikiran, Allah akan penghiburan kita (Mazmur 94:19).
Kedua Korintus 10: 3-5 menjelaskan cara mengendalikan pikiran mengganggu. Pertama, santai dan menyadari bahwa pikiran mengganggu tidak bisa sepenuhnya ditaklukkan oleh metode duniawi. Penghujatan spontan dan kecenderungan berbahaya adalah aspek peperangan rohani. Selanjutnya, mengambil pemikiran captive-capture itu, memecahnya, menentukan apakah ada kebenaran di dalamnya, dan mengalahkan kebohongan. Studi dan menghafal Alkitab sehingga Anda dapat siap dengan kebenaran pada saat pikiran muncul. Menganalisis hati Anda sendiri, dan menyerahkan setiap bagian dari Anda yang percaya kebohongan. Berdoa doa Daud dari Mazmur 139: 23-24: "Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku Coba saya dan kenallah pikiran-pikiranku Dan melihat apakah ada cara yang pedih dalam diriku, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!!!" Anda mungkin harus melakukan ini banyak, berkali-kali, namun, pada akhirnya, kebohongan harus memudar saat Anda berkonsentrasi pada kebenaran Allah (Mazmur 1: 1-3).
Kadang-kadang berulang kali menangkap pikiran dan menyangkal dengan Firman Tuhan tidak bekerja. Kadang-kadang, pikiran mengganggu dapat banyak dan tidak mungkin untuk kontrol. Ini adalah salah satu gejala utama dari gangguan obsesif kompulsif dan gejala kurang banyak gangguan jantung lainnya. Jika pikiran mengganggu sangat melemahkan, orang harus melihat dokter atau konselor yang berkualitas. Tuhan telah memberikan kita dengan dokter yang bisa merawat tubuh serta jiwa, dan kita harus mengambil keuntungan dari keahlian mereka.



April 11, 2015
Apa itu dosa?
Dosa adalah sulit, topik untuk membahas teologis Karena Kata yang sama dalam bahasa Inggris Mengacu pada beberapa negara yang berbeda. Dalam bentuk yang paling dasar, dosa adalah pelanggaran hukum dan pemberontakan terhadap Allah. Dosa adalah tindakan yang merugikan hubungan kita dengan Tuhan dan / atau orang lain. Hal ini memilih untuk bertindak dengan cara yang menarik kita menjauh dari Tuhan. Dia merancang kita untuk merespon kepada-Nya dengan cara yang sesuai dengan sifat-Nya. Dosa istirahat koneksi, yang menolak hadiah tersebut, dan Tolak Allah.
Dosa memasuki dunia saat Adam makan dari pohon Allah dilarang. Kita sekarang berdosa rohani karena "dosa alam" kita warisi dari Adam. Kita dilahirkan dengan sifat dosa dan kecenderungan alami untuk dosa. Kita dilahirkan dengan kecenderungan untuk menolak Allah. Karena identitas kita sebagai keturunan Adam, juga kita bawa "dosa asal." Ini adalah istilah yang berarti keuangan atau hukum mengambil sesuatu yang dimiliki seseorang dan mengkredit ke rekening orang lain. Hal ini hampir seperti menjadi penggemar tim pada tertentu Karena mereka adalah satu-satunya tim di kota. Kami diidentifikasi dengan tim, yang mana dalam hal ini adalah dosa. Tentu saja, dosa JUGA aksi panggilan individu sekarang yang bertentangan dengan hukum Allah.
Dosa dapat terwujud dalam berbagai cara. Ibrani 'awonmeans suatu kejahatan atau ketidakadilan Malevolent (1 Samuel 20: 1). Rasha'infers kegelisahan atau sesuatu yang berada di luar kendali (Yesaya 57:21). Chata'is definisi yang paling umum didengar. Ini berarti hilang tanda atau menyimpang dari jalur (Hakim-hakim 20:16). 'Abarmeans untuk melanggar atau melampaui bahwa yang disetujui (Hakim 2:20). Dalam Perjanjian Baru, Yunani hamartiais mirip dengan bahasa Ibrani chata'but ia pergi lebih jauh. Hal ini tidak hanya "hilang tanda," tapi juga dorongan batin atau alam yang disebabkan pelanggaran (Roma 6: 1). Demikian pula, hal itu dapat menjadi kekuatan terorganisir yang sengaja menetapkan tentang menyebabkan seseorang atau kelompok untuk jatuh ke dalam dosa (Roma 6:12).

Karena semua dosa adalah penolakan Allah , otoritas-Nya , dan preferensi -Nya , dosa otomatis mengecualikan kita dari hadirat-Nya . Tapi forgivness dosa , serta kasih karunia dan damai dan hidup yang kekal di surga hanya ditemukan di dalam Allah . Kebebasan dari cengkeraman dosa hanya ditemukan di dalam Allah . Mewarisi sifat kita dosa , dosa kita diperhitungkan , dan setiap pilihan kami sedikit definitif memisahkan kita dari Allah . Untungnya , pengorbanan Yesus mencakup semua dosa . Alih-alih dosa asal Adam , kami menerima kebenaran Kristus diperhitungkan ( 2 Korintus 5:21 ) -kita memilih tim lain untuk mengidentifikasi dengan . Sebagai Roh Kudus mendiami kita , sifat dosa kehilangan cengkeramannya , dan kita tidak lagi budak nya. Dan ketika kita melakukan tindakan individual dosa , kami berwenang untuk menghampiri takhta kasih karunia dengan keyakinan ( Ibrani 04:16 ) , mengetahui bahwa yang datang kepada Allah dan mengakui dosa-dosa kita akan memungkinkan kita untuk memperbaharui hubungan kita dengan-Nya .


April 9, 2015 

Pertanyaan: Dengan adanya berbagai agama, bagaimana saya tahu mana yang benar?

Jawaban: 
Tidak diragukan bahwa banyaknya agama yang berbeda dalam dunia menyulitkan untuk mengetahui mana yang benar. Pertama-tama, mari kita memikirkan beberapa pemikiran mengenai topik ini secara umum dan kemudian melihat bagaimana seseorang dapat mendekati topik itu dengan cara yang benar-benar dapat mencapai kesimpulan yang benar mengenai Allah. Tantangan jawaban yang berbeda terhadap isu tertentu tidak terbatas hanya pada topik agama. Misalnya, 100 siswa matematika diberikan pertanyaan yang sulit untuk mereka selesaikan, dan kemungkinan banyak yang akan memberi jawaban yang salah. Namun apakah ini berarti tidak ada jawaban yang benar? Bukan demikian. Mereka yang menjawab salah hanya perlu diperlihatkan kesalahannya dan mengetahui teknik yang diperlukan untuk mendapat jawaban yang benar. 

Bagaimana kita mendapatkan kebenaran mengenai Allah? Kita menggunakan metodologi yang sistematis yang dirancang untuk memisahkan kebenaran dari kesalahan dengan menggunakan berbagai tes kebenaran, di mana hasil akhirnya adalah sekumpulan kesimpulan yang benar. Dapatkah Anda membayangkan hasil akhir yang akan dicapai oleh seorang ilmuwan kalau dia pergi ke lab dan mulai mencampur berbagai zat tanpa irama atau alasan? Atau kalau seorang dokter mulai mengobati seorang pasien dengan obat secara acak sambil berharap dia akan sembuh? Ilmuwan maupun dokter tidak menggunakan pendekatan semacam ini; sebaliknya mereka menggunakan metode yang sistematis, yang metodis, logis, dapat dibuktikan, dan terbukti menghasilkan hasil akhir yang benar. 

Kalau demikian, mengapa teologia – kajian mengenai Allah – harus berbeda? Mengapa percaya bahwa teologia dapat didekati secara sembarangan dan secara tidak disiplin dan pada akhirnya menghasilkan kesimpulan yang benar? Sayangnya, ini adalah pendekatan yang dilakukan oleh banyak orang, dan inilah salah satu alasan mengapa ada begitu banyak agama. Setelah mengatakan itu, kita kembali kepada pertanyaan bagaimana kita dapat mencapai kesimpulan yang benar mengenai Allah. Pendekatan sistematis bagaimana yang harus digunakan? Pertama-tama, kita perlu menentukan kerangka kerja untuk menguji berbagai klaim mengenai kebenaran, dan kemudian kita membutuhkan peta yang dapat diikuti untuk mencapai kesimpulan yang benar. Berikut ini adalah sebuah kerangka kerja yang baik untuk digunakan:

1. Konsistensi logis - klaim dari suatu sistem kepercayaan harus masuk akal dan tidak bertentangan satu dengan lainnya dengan cara apa pun. Misalnya, tujuan akhir dari Budhisme adalah menghapuskan semua keinginan. Namun untuk dapat menghapuskan keinginan orang harus menginginkan, ini bertentangan dan merupakan prinsip yang tidak logis. 

2. Kecukupan empiris - apakah ada bukti yang mendukung sistem kepercayaan itu (baik bukti rasionil, bukti dari luar, dll)? Jelas diperlukan bukti untuk klaim penting yang dibuat supaya apa yang dikatakan dapat diverifikasikan. Misalnya, Mormon mengajarkan bahwa Yesus tinggal di Amerika Utara. Namun sama sekali tidak ada bukti, baik arkeologis, maupun lainnya, yang mendukung klaim itu. 

3. Relevansi eksistensial – sistem kepercayaan itu harus menuruti realita sebagaimana yang kita kenal, dan harus menghasilkan perbedaan dalam hidup penganutnya. Deisme, misalnya, mengklaim bahwa Allah melemparkan dunia yang berputar ke dalam alam raya dan tidak berinteraksi dengan yang berdiam di dalamnya. Bagaimana dampak kepercayaan semacam itu bagi seseorang dalam kehidupan sehari-hari? Singkatnya, tidak ada.

Kerangka kerja di atas, ketika diterapkan pada agama, akan mengarahkan seseorang pada pandangan yang benar akan Allah dan akan menjawab empat pertanyaan besar mengenai hidup:

1. Asal mula - dari mana kita berasal?
2. Etika – bagaimana seharusnya kita hidup?
3. Makna - apa tujuan hidup?
4. Nasib - ke mana arah umat manusia? 

Namun bagaimana orang dapat menerapkan kerangka kerja ini dalam pencarian akan Allah? Pendekatan tanya/jawab langkah demi langkah adalah cara terbaik untuk digunakan. Menyaring daftar pertanyaan yang mungkin akan menghasilkan pertanyaan-pertanyaan berikut:

1. Apakah kebenaran mutlak itu ada?
2. Apakah rasio dan agama bisa dicampurkan?
3. Apakah Allah ada?
4. Dapatkah Allah dikenal?
5. Apakah Yesus itu Allah?
6. Apakah Allah memperdulikan saya?

Pertama-tama kita perlu mengetahui apakah kebenaran mutlak itu ada. Kalau tidak ada, maka kita tidak bisa mengetahui apa pun secara pasti (rohani atau bukan), dan kita akan menjadi seorang agnostik, tidak yakin apakah kita bisa betul-betul mengetahui sesuatu, atau seorang pluralis, menerima setiap posisi karena kita tidak pasti mana, kalaupun ada, yang benar. 

Kebenaran mutlak didefinisikan sebagai yang sesuai dengan realita, yang sesuai dengan obyeknya, menyatakan sebagaimana adanya. Beberapa orang mengatakan bahwa tidak ada yang namanya kebenaran mutlak, namun bersikap seperti ini menghancurkan diri sendiri. Misalnya, kaum relativis mengatakan, "Semua kebenaran itu relatif," namun orang harus bertanya: apakah pernyataan itu benar secara mutlak? Kalau begitu, berarti kebenaran mutlak ada; kalau tidak, kenapa pikirkan? Postmodernisme tidak menerima kebenaran apa pun, namun postmodernisme menerima paling sedikit satu kebenaran mutlak: postmodernisme adalah benar adanya. Pada akhirnya, kebenaran mutlak tak dapat disangkali

Lebih lanjut lagi, kebenaran mutlak pada dasarnya bersifat sempit dan menolak yang berlawanan. Dua tambah dua sama dengan empat, tidak ada jawaban lain yang mungkin. Butir ini penting adanya saat membandingkan sistem kepercayaan dan pandang dunia yang berbeda. Kalau suatu sistem kepercayaan memiliki komponen yang terbukti kebenarannya, maka sistem kepercayaan lain yang memiliki klaim yang berlawanan pastilah salah. Lagi pula, kita harus ingat bahwa kebenaran yang mutlak tidak dipengaruhi oleh ketulusan dan keinginan. Tidak peduli berapa tulusnya seseorang dalam percaya kepada dusta, itu tetap dusta. Tidak ada keinginan dalam dunia yang dapat membenarkan apa yang salah. 

Jawaban dari pertanyaan pertama adalah kebenaran mutlak itu ada. Karena itu, agnostisme, postmodernisme, relativisme and skeptisime semuanya adalah posisi yang salah. 

Hal ini membawa kita kepada pertanyaan berikutnya mengenai apakah akal/logika dapat digunakan dalam soal agama. Ada yang mengatakan tidak mungkin, namun – mengapa tidak? Yang benar adalah, logika itu vital ketika menganalisa klaim rohani karena logika membantu kita memahami mengapa ada klaim yang harus ditolak sementara yang lainnya diterima. Logika sangat penting dalam membongkar pluralisme (yang mengatakan bahwa semua klaim kebenaran, bahkan yang saling bertentangan pun, adalah benar dan sah).

Misalnya, Islam dan Yudaisme mengklaim bahwa Yesus bukan Allah, sementara keKristenan mengklaim Dia adalah Allah. Salah satu hukum dasar dari logika adalah hukum tidak-bertentangan, yang mengatakan bahwa sesuatu tidak bisa merupakan "A" dan "bukan-A" pada saat bersamaan dan dalam pengertian yang sama. Menerapkan hukum ini kepada klaim Yudaisme, Islam dan keKristenan berarti bahwa salah satunya benar sementara yang dua salah. Yesus tidak bisa merupakan Allah dan sekaligus bukan Allah. Digunakan secara patut, logika adalah senjata yang ampuh untuk melawan pluralisme karena menunjukkan bahwa klaim yang bertentangan terhadap kebenaran tidak mungkin sama benarnya. Pemahaman ini merobohkan cara berpikir "benar untuk kamu namun tidak benar untuk saya."

Logika juga membuang analogi “semua jalan menuju ke Roma” yang digunakan oleh para penganut pluralis. Logika menunjukkan bahwa setiap sistem kepercayaan memiliki tanda-tanda masing-masing yang menunjuk pada lokasi yang pada akhirnya berbeda. Logika memperlihatkan bahwa ilustrasi yang tepat untuk pencarian kebenaran rohani adalah seperti jalan yang rumit - satu jalur menuntun sampai kepada kebenaran, sementara semua lainnya buntu. Semua kepercayaan memiliki kesamaan di permukaan, namun dalam inti pengajaran mereka amat berbeda. 

Kesimpulannya adalah bahwa Anda dapat menggunakan akal dan logika dalam urusan agama. Karena itu, pluralisme (kepercayaan bahwa semua klaim kebenaran sama benar dan sahnya) dibuang karena tidak logis dan bertentangan dengan kepercayaan bahwa klaim kebenaran yang bertentangan bisa sama benarnya. 

Berikutnya pertanyaan yang besar: apakah Allah ada? Kaum ateis dan naturalis (yang tidak menerima apa pun selain dunia fisik mengatakan “tidak.” Sekalipun sepanjang sejarah pertanyaan ini sudah banyak ditulis dan diperdebatkan, tidaklah sulit untuk menjawabnya. Untuk memberinya bobot yang pantas, Anda pertama-tama harus menanyakan pertanyaan ini: Mengapa kita memiliki sesuatu dan bukannya sama sekali tidak ada? Dengan kata lain, bagaimana Anda dan semua yang lainnya bisa ada? Dukungan untuk Allah dapat disajikan dengan amat sederhana:

Ada sesuatu.
Sesuatu tidak berasal dari yang tidak ada.
Karena itu Pribadi yang kekal itu ada. 

Anda tidak dapat menyangkal bahwa Anda itu ada karena Anda harus ada baru dapat menyangkali keberadaan Anda (yang menghancurkan diri sendiri), jadi premis pertama di atas benar adanya. Tidak ada orang yang percaya bahwa Anda bisa mendapatkan sesuatu dari yang tidak ada (yaitu, “tidak ada” bisa menghasilkan alam raya), jadi premis yang kedua benar adanya. Karena itu, premis yang ketiga pasti benar – ada Pribadi yang kekal yang bertanggung jawab untuk segala yang ada. 

Ini adalah posisi yang tidak akan disangkali oleh orang ateis yang berpikir; mereka hanya mengklaim bahwa alam raya adalah sang pribadi kekal itu. Namun demikian, masalah dengan kedudukan itu adalah semua bukti ilmiah menunjuk pada fakta bahwa alam raya memiliki awal (“letusan besar”). Dan segala sesuatu yang memiliki awal harus memiliki penyebab; oleh karena itu, alam raya memiliki penyebab dan tidak kekal. Karena kedua sumber kekekalan adalah alam semesta yang kekal (terbukti tidak benar) atau Pencipta yang kekal, maka kesimpulan logis adalah Allah itu ada. Menjawab keberadaan Allah secara pasti menghapuskan ateisme sebagai sistem kepercayaan yang sah.

Kesimpulan ini tidak berbicara apa-apa mengenai Allah seperti apa yang ada, namun yang mengagumkan adalah hal ini menyapu satu hal – kesimpulan ini menyingkirkan semua agama panteistik. Semua pandang dunia panteistik mengatakan bahwa alam semesta adalah Allah dan bersifat kekal. Dan pernyataan ini salah adanya. Jadi Hinduisme, Budhisme, Jainisme dan semua agama panteistik tersingkir dari sistem kepercayaan yang sah. 

Lebih lanjut lagi, kita mempelajari beberapa hal yang menarik mengenai Allah yang menciptakan alam semesta ini. Dia:

• Bersifat supranatural (Dia berada di luar ciptaan-Nya)
• Dia sangat berkuasa (sanggup menciptakan semua yang diketahui)
• Kekal (ada pada diriNya sendiri, karena Dia berada di luar waktu dan ruang)
• Mahahadir (Dia menciptakan ruang dan tidak dibatasi oleh ruang)
• Tanpa batas waktu dan tidak berubah (Dia menciptakan waktu)
• Tidak bersifat materi (karena Dia melampaui ruang)
• Pribadi (yang tidak bersifat pribadi tidak dapat menciptakan kepribadian).
• Perlu (segala sesuatu bergantung kepadaNya)
• Tidak terbatas dan tunggal (tidak bisa ada dua yang tidak terbatas)
• Beraneka ragam, namun bersatu (sebagaimana alam menunjukkan keanekaragaman)
• Berakal budi (sangguo menciptakan segalanya)
• Moral (tidak ada hukum moral yang bisa ada tanpa pemberi hukum)
• Peduli (kalau tidak, tidak akan ada hukum moral yang diberikan)

Pribadi ini memperlihatkan ciri-ciri yang amat serupa dengan Allah Yudaisme, Islam dan keKristenan, yang menariknya adalah satu-satunya iman inti yang masih tesisa setelah ateisme dan panteisme dihapuskan. Perhatikan bahwa salah satu pertanyaan besar dalam hidup (asal mula) sekarang terjawab: kita tahu dari mana asal usul kita.

Hal ini membawa kita kepada pertanyaan berikut: dapatkah kita mengenal Allah? Pada titik ini, perlunya agama digantikan oleh sesuatu yang lebih penting – perlunya pewahyuan. Agar umat manusia dapat mengenal Allah ini dengan baik, tergantung pada Allah untuk mewahyukan diri-Nya kepada ciptaan-Nya. Yudaisme, Islam dan keKristenan semua mengklaim memiliki kitab yang adalah wahyu Allah kepada manusia, namun pertanyaannya adalah yang mana (kalau ada) yang benar? Tanpa memperdulikan perbedaan-perbedaan kecil, ada dua pertentangan yang utama, yaitu 1) Alkitab Perjanjian Baru 2) pribadi Yesus Kristus. Islam dan Yudaisme keduanya mengklaim bahwa Alkitab Perjanjian Baru tidak benar dalam klaimnya, dan keduanya menolak bahwa Yesus adalah Allah yang berinkarnasi, sementara keKristenan menerima keduanya sebagai benar.

Tidak ada kepercayaan di atas bumi ini yang dapat mengimbangi segunung bukti yang mendukung keKristenan. Mulai dari besarnya jumlah naskah-naskah kuno, mulai dari yang paling awal yaitu dokumen yang tertanggalkan pada saat para saksi mata masih hidup (beberapa hanya 15 tahun setelah kematian Kristus), sampai pada banyaknya kisah (sembilan penulis untuk 27 kitab Perjanjian Baru), sampai pada bukti arkeologis - tidak ada satupun yang bertentangan dengan satu klaim pun dari Perjanjian Baru - sampai pada fakta bahwa para rasul sampai mati pun mengklaim bahwa mereka telah melihat apa yang dilakukan oleh Yesus dan bahwa Dia bangkit kembali dari kematian, keKristenan menentukan standar dalam penyediaan bukti untuk mendukung klaimnya. Otentisitas historis Perjanjian Baru - bahwa PB menyajikan kisah yang sejati mengenai peristiwa yang sebenarnya sebagaimana terjadinya - adalah satu-satunya kesimpulan yang tepat begitu semua bukti sudah ditelaah.

Mengenai Yesus, orang mendapatkan hal yang amat menarik mengenai Dia - Dia mengklaim sebagai Allah dalam wujud manusia. Kata-kata Yesus sendiri (e.g. “Sebelum Abraham dilahirkan Aku sudah ada), perbuatan-Nya (e.g. mengampuni dosa, menerima penyembahan), hidup-Nya yang tanpa dosa dan penuh mujizat (yang digunakan-Nya untuk membuktikan kebenaran klaim-Nya dibandingkan klaim-klaim yang bertentangan), dan kebangkitan-Nya semua mendukung klaim-Nya bahwa Dia adalah Allah. Penulis Perjanjian Baru menegaskan fakta ini berulang-ulang dalam tulisan mereka. 

Kalau Yesus adalah Allah, maka apa yang Dia katakan pastilah benar. Dan kalau Yesus mengatakan bahwa Alkitab tanpa salah dan benar dalam segala yang dikatakan (dan Dia mengatakan demikian), hal ini berarti bahwa Alkitab adalah benar dalam apa yang dikatakan. Sebagaimana yang telah kita pelajari, dua klaim kebenaran yang berlawanan tidak mungkin benar kedua-duanya. Jadi segala sesuatu dalam Qur’an Islam atau tulisan Yudaisme yang bertentangan dengan Alkitab tidak mungkin benar. Kenyataannya, baik Islam maupun Yudaisme gagal karena keduanya mengatakan bahwa Yesus bukan Allah yang berinkarnasi, sementara bukti memperlihatkan bahwa Dia adalah demikian. Dan karena kita betul-betul dapat mengenal Allah (karena Dia telah mengungkapkan diri-Nya dalam firmanNya yang tertulis dan dalam Kristus), segala bentuk agnostisisme dapat ditolak. Akhirnya, pertanyaan besar lainnya mengenai kehidupan terjawab – yaitu mengenai etika – karena Alkitab mengandung instruksi yang jelas mengenai bagaimana umat manusia harus hidup. 

Alkitab yang sama memproklamirkan bahwa Allah amat peduli kepada umat manusia dan menghendaki agar semua mengenal Dia dengan intim. Bahkan Dia begitu pedulinya sampai Dia menjadi manusia untuk memperlihatkan kepada ciptaan-Nya bagaimana Dia sebenarnya. Ada banyak orang yang berusaha menjadi Allah, namun hanya adalah satu Allah yang menjadi manusia supaya Dia dapat menyelamatkan mereka yang amat Dia cintai dari keterpisahan kekal dengan-Nya. Fakta ini memperlihatkan relevansi eksistensial keKristenan dan juga menjawab kedua pertanyaan besar terakhir mengenai hidup – makna dan nasib. Setiap orang dirancang oleh Allah dengan tujuan tertentu, dan setiap orang memiliki nasib yang menantikan dia - baik hidup kekal bersama Allah atau terpisah secara kekal dari Allah. Kesimpulan ini (dan bahwa Allah menjadi manusia dalam Kristus) juga menolak Deisme, yang mengatakan bahwa Allah tidak tertarik pada urusan manusia.

Pada akhirnya kita melihat bahwa kebenaran utama mengenai Allah dapat ditemukan dan pandangan yang berbelit-belit berhasil dilalui dengan sukses dengan menguji berbagai klaim kebenaran dan secara sistematis menyingkirkan yang salah sehingga hanya kebenaran yang tersisa. Dengan menggunakan uji konsistensi logis, kecukupan empiris, dan relevansi eksistensial, ditambah dengan menanyakan pertanyaan yang benar, kesimpulan yang benar dan berdasar mengenai agama dan Allah dihasilkan. Setiap orang harus sepakat bahwa satu-satunya alasan untuk mempercayai sesuatu adalah bahwa itu benar adanya – itu saja. Sayangnya, keyakinan sejati adalah soal kehendak, dan berapa banyak pun bukti logis yang disajikan, tetap ada saja yang memilih untuk menyangkal Allah yang ada dan tidak melihat satu-satunya jalan yang sejati untuk berdamai dengan Dia.



Comments